<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SUARA QOLBU &#187; Filsafat</title>
	<atom:link href="http://suaraqolbu.wordpress.com/category/filsafat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suaraqolbu.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Jan 2008 07:37:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='suaraqolbu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4c14badebf79c8f1c85b045acd7bd071?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SUARA QOLBU &#187; Filsafat</title>
		<link>http://suaraqolbu.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Teori Pengetahuan</title>
		<link>http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/teori-pengetahuan/</link>
		<comments>http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/teori-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 07:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>h4md4n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Dikutip dari berbagai media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/teori-pengetahuan/</guid>
		<description><![CDATA[
Teori Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge atau ilmu )adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari &#8220;berpikir &#8220;. Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan &#8221; barangkali &#8221; keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraqolbu.wordpress.com&blog=2202450&post=6&subd=suaraqolbu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="Section1" dir="rtl">
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><b><span style="font-family:Calibri;">Teori Pengetahuan</span></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><i><span style="font-family:Calibri;">Pengetahuan (knowledge </span></i><span style="font-family:Calibri;">atau <i>ilmu </i>)adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari <b>&#8220;berpikir &#8220;.</b> Berpikir ( atau <i>natiqiyyah</i>) adalah sebagai <i>differentia</i> ( atau <i>fashl</i>) yang memisahkan manusia dari sesama <i>genus-</i>nya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan &#8221; barangkali &#8221; keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (<i>complicated</i>). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (<i>world view</i>), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek. </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Para</span><span style="font-family:Calibri;"> pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan <b>epistemolog</b>i (teori pengetahuan atau <i>nadzariyyah al ma&#8217;rifah</i>).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti, Mutahhari dengan bukunya <b>&#8220;Syinakht&#8221;,</b> Muhammad Baqir Shadr dengan <b>&#8220;Falsafatuna&#8221;-</b>nya, Jawad Amuli dengan <b>&#8220;Nadzariyyah al</b> <b>Ma&#8217;rifah&#8221;</b>-nya dan Ja&#8217;far Subhani dengan <b>&#8220;Nadzariyyah al Ma&#8217;rifah&#8221;-</b>nya. Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan <b>Positivismenya</b>, Wiliam James dengan <b>Pragmatismenya</b>, Francis Bacon dengan <b>Sensualismenya</b>. </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">&nbsp;</p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraqolbu.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraqolbu.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraqolbu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraqolbu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraqolbu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraqolbu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraqolbu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraqolbu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraqolbu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraqolbu.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraqolbu.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraqolbu.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraqolbu.wordpress.com&blog=2202450&post=6&subd=suaraqolbu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/teori-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08b8154628ca1d56656e119bf5b4fad8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">h4md4n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Umber dan alat pengetahuan</title>
		<link>http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/umber-dan-alat-pengetahuan/</link>
		<comments>http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/umber-dan-alat-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 07:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>h4md4n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Dikutip dari berbagai media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/umber-dan-alat-pengetahuan/</guid>
		<description><![CDATA[
Sumber Dan Alat Pengetahuan.
 
 
Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausaliltas bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidental -baik menurut teori recolection-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraqolbu.wordpress.com&blog=2202450&post=5&subd=suaraqolbu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="Section1" dir="rtl">
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><b><span style="font-family:Calibri;">Sumber Dan Alat Pengetahuan</span></b><span style="font-family:Calibri;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><span style="font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"> </p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausaliltas bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidental -baik menurut teori <i>recolection</i>-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan filsafat-materialisnya kaum empiris- dan pasti mempunyai sebab atau sumber. Tentu yang dianggap sebagai sumber pengetahuan itu beragam dan berbeda sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pemikiran manusia. Selain pengetahuan itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika hendak mengadakan kontak dengan sumber-sumber itu, maka dia menggunakan alat.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Para</span><span style="font-family:Calibri;"> filusuf Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu : </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><b><span style="font-family:Calibri;">Alam tabi&#8217;at atau alam fisik </span></b></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><b><span style="font-family:Calibri;">Alam Akal </span></b></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><b><span style="font-family:Calibri;">Analogi ( <i>Tamtsil</i>) </span></b></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><b><span style="font-family:Calibri;">Hati dan Ilham</span></b></span><span style="font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><b><span style="font-family:Calibri;">1. Alam tabi&#8217;at atau alam fisik</span></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (<i>al hiss</i>), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, sepert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam tabi&#8217;at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang &#8220;barangkali&#8221; paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi&#8217;at.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi&#8217;at. Disebutkan bahwa, barang siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (<i>badihiyyat</i>). Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang <i>lazim</i> bukan syarat yang <i>cukup</i>. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal. Malah dalam kajian filsafat Islam yang paling akhir, pengetahuan yang diperoleh melalui indra sebenarnya bukanlah lewat indra. Mereka mengatakan bahwa obyek pengetahuan (<i>al ma&#8217;lum</i>) ada dua macam, yaitu, (1) obyek pengetahuan yang substansial dan (2) obyek pengetahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada dalam benak, sedang realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut pandangan ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke relita dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><b><span style="font-family:Calibri;">Pandangan Sensualisme (<i>al-hissiyyin</i>).</span></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, menyusun dan memilah, dan meng-generalisasi. Jadi yang paling berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><b><span style="font-family:Calibri;">2. Alam Akal</span></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Kaum Rasionalis, selain alam tabi&#8217;at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada. </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><b><span style="font-family:Calibri;">Aktivitas-aktiviras Akal</span></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;">Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;">Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, <i>pertama,</i> teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori <i>tajrid</i> dan <i>intiza&#8217;.</i> Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;">Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, dan ke dalam aksdensi (yang sembilan macam). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;">Pemilahan dan Penguraian. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;">Penggabungan dan Penyusunan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:Calibri;">Kreativitas. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><b><span style="font-family:Calibri;">3. Analogi (<i>Tamtsil</i>)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi <i>fiqih </i>disebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Analogi tersusun dari beberapa unsur; (1) asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya. (2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya, (3) titik kesamaan antara asal dan cabang dan (4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Analogi dibagi dua;</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><b><span style="font-family:Calibri;">Analogi interpretatif</span></b></span><span style="font-family:Calibri;"> : Ketika sebuah kasus yang sudah jelas hukumnya, namun tidak diketahui <i>illat</i>nya atau sebab penetapannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left:1in;text-align:left;text-indent:-0.25in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><b><span style="font-family:Calibri;">Analogi Yang Dijelaskan illatnya </span></b></span><span style="font-family:Calibri;">: Kasus yang sudah jelas hukum dan illatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><b><span style="font-family:Calibri;">4. Hati dan Ilham</span></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><b><i><span style="font-family:Calibri;">Bagaimana mengetahui lewat hati ?</span></i></b></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, &#8220;Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang <i>qudsi</i>, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (<i>alhissi</i>) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir. Tabir di sini -dalam pembahasan ini- adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya &#8220;</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Kemudian beliau melanjutkan, &#8220;Jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam malakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam malakut dan terpantul padanya kesucian (<i>qudsi</i>) Lahut .&#8221; (al-Asfar al-Arba&#8217;ah jilid 7 halaman 24-25).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, &#8220;Sesungguhnya para &#8216;arifin mempunyai makam-makam dan derajat-derajat yang khusus untuk mereka. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, padahal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untuk alam <i>qudsi</i>. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibayangkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan mengingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya.&#8221; (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para &#8216;arif halaman 363-364)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Kemudia beliau melanjutkan, &#8220;Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang &#8216;arif berbicara -lebih dulu- tentang hal yang gaib (atau yang akan terjadi), dengan berita yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda keberatan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-sebab yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi&#8217;at.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-family:Calibri;">Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut <i>ilham</i> atau <i>isyraq,</i> dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut <i>wahyu.</i> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl"><span dir="ltr"> </span></p>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/suaraqolbu.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/suaraqolbu.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suaraqolbu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suaraqolbu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suaraqolbu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suaraqolbu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suaraqolbu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suaraqolbu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suaraqolbu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suaraqolbu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suaraqolbu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suaraqolbu.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suaraqolbu.wordpress.com&blog=2202450&post=5&subd=suaraqolbu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suaraqolbu.wordpress.com/2008/01/05/umber-dan-alat-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/08b8154628ca1d56656e119bf5b4fad8?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">h4md4n</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>